![]() |
|
![]() |
Sign Up Singkat dan Mudah
|
Sign Up Privasi Anda Kami Jaga |
Selamat Datang di Rumaruma! Cek Kotak Masuk Anda untuk Verifikasi E-mail Kami telah mengirimkan e-mail ke dengan link verifikasi. Jika Anda tidak menerima e-mail dalam 2 menit, klik Kirim Ulang. Mohon pastikan e-mail tidak masuk ke folder Spam / Junk. |
Selamat Datang di Rumaruma! Akun Anda Sedang Kami Verifikasi Terima kasih telah mendaftarkan diri Anda dalam situs kami. Admin kami sedang melakukan verifikasi terhadap akun Anda. Mohon menunggu hingga maksimal 1 X 24 jam. Sembari menunggu, Anda dapat melihat-lihat listing yang sudah terdaftar di situs kami. |
![]() |
Buat Listing Pilih Tipe Properti yang Anda Inginkan
Klik Salah Satu Gambar untuk Melanjutkan |
![]() |
Kriteria Listing Ikuti Panduan Berikut untuk Memastikan Kualitas Listing Anda
|
Listing Properti dalam 3 Tahap Dapatkan Penghasilan Tambahan dari Verifikasi Listing
|
Kami ingin tahu pendapat Anda |
Apakah listing Anda telah terjual? |
Kembali meningkatnya kasus pandemi Covid-19 memang menimbulkan keresahan yang tak berkesudahan. Apalagi, dengan pemberitaan adanya virus varian baru dengan tingkat penularan yang lebih tinggi, serta kabar bahwa orang-orang terdekat, bahkan anak-anak yang mulai terjangkit virus tersebut. Namun, bukan berarti kita menjadi panik dan latah dengan ikut membeli sejumlah obat-obatan atau bahan makanan dalam jumlah besar.
Mirisnya lagi jika masyarakat yang ikutan latah praktek panic buying tersebut sebetulnya tidak tahu manfaat atau efektivitas barang-barang yang mereka beli terhadap penanggulan pandemi. Contohnya saja, susu viral yang digadangkan berperan dalam pengobatan Covid-19 sampai-sampai menjadi rebutan para masyarakat. Belum lagi, obat-obatan untuk pengobatan Covid-19 yang seharusnya ditujukan kepada pasien namun tidak mendapat jatah dikarena habis diborong oleh orang-orang yang kondisinya sehat-sehat. “Jaga-jaga” dalihnya.
Boleh saja berjaga-jaga dengan menyetok obat-obatan, suplemen, bahan makanan sebagai antisipasi saat lockdown. Namun, sebaiknya lakukan dengan se-reasonable dan responsible mungkin. Jangan sampai berlebihan sehingga orang-orang yang benar-benar membutuhkan kehabisan.
Menurut Enny Sri Hartati, Direktur Eksekutif INDEF, panic buying dipicu oleh faktor psikologis yang biasanya terjadi karena informasi yang diterima oleh masyarakat tidak jelas. Akibatnya, muncul kekhawatiran dari masyarakat dan meresponsnya dengan menimbun barang sebagai salah satu bentuk penyelamatan diri.
Marilah kita semua berpikir dan melihat dengan satu visi dan misi serta kacamata yang lebih besar. Buang keegoisan atau cara berpikir bahwa “yang penting saya tidak kena” atau “yang penting menyelamatkan diri sendiri” karena pandemi membutuhkan kerja sama dan kesadaran dari semua orang, baik yang kondisi sehat, OTG dan bergejala untuk waspada. Jika terus ada kasus baru, maka tingkat penularan akan meningkat pula dan gol untuk menciptakan masyarakat dan kota yang herd immunity akan semakin sulit tercapai.
Sebab itu, berhenti menimbun barang. Panic buying, jika dibiarkan terus menerus terjadi, maka dapat menimbulkan inflasi sebagai dampak lanjutan. Tentu masih segar di ingatan, harga masker medis dan disinfektan yang mendadak melambung tinggi dan stok yang habis di pasaran beberapa waktu lamanya.
Langkah lain yang juga dapat dilakukan untuk meminimalisir panic buying adalah dengan memastikan informasi yang didapat bersumber dari pihak-pihak yang berwenang. Dengan informasi yang jelas dan pasti, dapat meredam tekanan psikologis masyarakat dari berbagai macam informasi hoaks.
Lalu, tetap jalankan prokes dengan baik, bahkan jika kalian sudah menerima vaksinasi. Ingat, vaksinasi bukan artinya kebal seutuhnya. Vaksinasi bertujuan untuk memberi perlindungan tubuh agar tidak jatuh sakit atau proses penyembuhan dapat lebih cepat jika terpapar Covid-19.
Selama PPKM, masyarakat juga dapat berkontribusi dengan melakukan aktivitas lainnya #dirumahaja dan rajin menjaga kebersihan agar penyebaran virus semakin berkurang.