Photo:
Photo:
Photo:
Kontributor
Share:
Share via Facebook Share via Twitter Share via WhatsApp Share via E-mail
Artikel Lainnya

Fenomena Aphelion, Saat Matahari Tampak Lebih Kecil | Rumaruma Blog

Fenomena yang kembali ramai diperbincangkan oleh publik

Fenomena Aphelion, Saat Matahari Tampak Lebih Kecil

Sejenak mengalihkan perhatian dari fenomena vitamin palsu atau apapun yang terkait dengan pandemi adalah fenomena Aphelion yang terjadi di bulan Juli ini. Apa yang dimaksud fenomena Aphelion dan bagaimana pengaruhnya terhadap Bumi? Simak ulasan Rumaruma berikut.

 

Fenomena Aphelion mengacu pada peristiwa astronomis yang menempatkan Bumi pada posisi terjauhnya dari Matahari. Fenomena ini menyebabkan Matahari tampak lebih kecil dari biasanya. Di Jakarta, iklim ibukota terasa lebih dingin di pagi hari saat fenomena tersebut terjadi.

 

Dikutip dari situs Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, fenomena Aphelion dapat terjadi karena orbit Bumi yang tidak berbentuk lingkaran sempurna, namun berbentuk elips (lonjong). Namun, secara umum tidak ada dampak yang signifikan saat Bumi berjauhan dengan Matahari. Suhu dingin yang dirasakan belakangan ini lumrah terjadi pada musim kemarau karena tutupan awan yang sedikit, sehingga sedikit panas yang dipantulkan ke permukaan bumi oleh awan.

 

Dilansir dari artikel yang diterbitkan oleh University of Southern Maine, fenomena Aphelion mempengaruhi iklim Bumi dengan memperpanjang durasi saat Bumi berada pada jarak terjauh dari Matahari. Bumi lebih jauh dari Matahari di musim panas. Oleh karena itu, kecepatan orbitnya berada pada titik terendah dan memerlukan lebih banyak waktu untuk melakukan perjalanan dari titik balik matahari musim panas ke titik balik musim gugur daripada yang dibutuhkan untuk bergerak antara titik balik matahari musim dingin dan titik balik musim semi. Musim dingin adalah sekitar 89 hari; musim panas adalah sekitar 92 hari.