Photo:
Photo:
Photo:
Kontributor
Share:
Share via Facebook Share via Twitter Share via WhatsApp Share via E-mail
Artikel Lainnya

Bisnis Sewa Rumah Tahun 2021, Cuan Atau Zonk? | Rumaruma Blog

Sektor properti memasuki kuartal keempat tahun ini.

Bisnis Sewa Rumah Tahun 2021, Cuan Atau Zonk?

Memasuki kuartal keempat tahun 2021, sektor properti perlahan menunjukkan peningkatan, khususnya dari sisi permintaan akan rumah. Gaya hidup era PPKM yang masih menjadikan rumah sebagai pusat kegiatan, mulai dari bekerja, bermain hingga belajar, menjadi salah satu motivasi yang mendorong masyarakat untuk memiliki rumah. 

Selain faktor emosional, kebijakan fiskal dan program insentif terkait pembelian rumah oleh pemerintah juga semakin mendorong masyarakat untuk mewujudkan rumah impian mereka.

Lantas, bagaimana dengan bisnis sewa rumah? Apakah juga mengalami peningkatan permintaan yang selaras dengan pembelian rumah? Simak tren dan kondisi pasar properti berikut:

1. Tingkat hunian menurun, harga sewa apartemen di Jakarta makin murah

Pandemi Covid-19 berdampak pada merosotnya tingkat hunian sewa apartemen di Jakarta. Dilansir dari kompas.com, dari sisi permintaan juga masih sangat terbatas akibat dari aturan pembatasan yang tidak memungkinkan penyewa dari luar negeri untuk masuk ke Indonesia. Dengan menurunnya tingkat permintaan sewa membuat harga apartemen cenderung menurun menjadi Rp 148.025 per meter persegi per bulannya. Penurunan harga sewa tersebut menjadi salah satu upaya pemilik unit untuk menggaet konsumen di tengah pandemi. 

2. Terjadi tren kekosongan karena banyak penyewa yang pulang ke rumah asal

Ekspatriat, perantau dan mahasiswa dari daerah merupakan tiga tipe penyewa yang mendominasi bisnis sewa rumah. Namun, dengan pandemi yang menggeser seluruh kegiatan untuk dilakukan dari rumah untuk periode waktu yang lama, membuat para penyewa tersebut berpikir untuk tidak memperpanjang sewa mereka. Tidak sedikit yang memutuskan untuk pulang ke kampung asal atau rumah orang tua dengan alasan menghemat biaya hidup sehingga mengakibatkan penurunan bahkan kekosongan pada unit-unit rumah yang disewakan tersebut. 

3. Permintaan hunian konsep co-living menurun drastis

Sempat menjadi tren di kalangan Milennial pada era pra-pandemi, nyatanya konsep co-living sulit diaplikasikan di tengah pandemi yang menunut social distancing. Puncak pandemi bulan Juni tahun lalu saja tercatat penurunan permintaan sewa hingga 30 persen imbas dari virus corona.